Sabtu, 09 April 2011

perjalanan menuju ilahi


Perjalanan Menuju Ilahi

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.

Segala puji bagi Allah, yang maha mengetahui
seluruh rahasia tersembunyi dan dimana hati mukminin
bergetar tatkala mendengar asma-Nya .Shalawat dan
salam semoga tercurah pada penghulu sekalian Rasul,
penyempurna risalah Ilahi beserta keluarganya.

Saya ucapkan banyak terima kasih atas partisipasi
rekan jamaah dzikrullah di nusantara dalam
kontribusinya pada syiar Islam di bidangnya
masing-masing. Dan kepada bapak H. Slamet Oetomo, saya
juga menghaturkan terima kasih atas wejangannya yang
bermanfaat dalam menuju kehadirat Ilahy.

Dalam kesempatan ini, saya akan sampaikan perjalanan
pengalaman keruhanian saya serta apa dan bagaimana
wejangan H. Slamet Oetomo tersebut. Sebelum saya
bertemu dengan Pak Haji, demikian H. Slamet Oetomo
biasa dipanggil, saya tinggal di sebuah pesantren di
Bogor. Sebuah pesantren yang menekankan nilai-nilai
ajaran tasawufnya Imam Algazaly. Kami dikondisikan
dengan suasana nizham tasawuf yang cukup ketat.

Namun anehnya, semakin dalam saya menekuni dunia
tasawuf akhlakiah ini (bukan tarikah seperti
Naqshabandiyah, atau yang lain) justru saya mengalami
rasa jenuh yang luar biasa. Saya merasakan lelah yang
sangat hebat. Dalam beribadah dan bersyariat pun
terasa banyak yang masih terlewatkan. Belum lagi
tuntutan kualitas dalam melakukannya. Saya merasa
tidak mungkin melaksanakan ajaran Islam secara total
yakni melaksanakan ayat per ayat yang jumlahnya 6666
itu, ditambah lagi dengan hadist yang jumlahnya
mencapai ratusan ribu. Saya pernah berpikir betapa
ajaran Islam ini susah sekali untuk diamalkan,
padahal kita terlanjur tahu tentang segala kewajiban
harus dilakukan .Baik yang berupa larangan maupun
perintah. Dan didalam Alquran sendiri dalam surat Al
Baqarah 208 Menyatakan :

Wahai orang yang beriman masuklah kalian dalam Islam
secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh
yang nyata bagimu.

Tiba-tiba saya menjadi sangat ngeri membaca
peringatan ayat ini. Sebab kata “Kaafah” dalam ayat
tersebut berarti keseluruhan ajaran Islam, dimana
dalam pemahaman saya, kita harus melaksanakan ajaran
Islam ini dengan total tanpa pilih-pilih lagi. Namun,
terasa sekali betapa berat dalam merealisasikan
tuntutan Al Qur’an tersebut, padahal saya sudah
berupaya dengan sungguh-sungguh. Mulai dari menjaga
pandangan dari perbuatan maksiat serta shalat-shalat
sunnah dengan diiringi puasa nabi dawud dan
mendawamkan wudhu’, sampai-sampai di tengah banyak
orang tidur lelap, saya tidak ketinggalan tahajjud.
Keadaan ini saya lakukan selama bertahun-tahun, namun
begitu melihat bahwa ajaran Islam tidak hanya itu,
saya pun mengalami kebingungan. Karena terasa bahwa
saya masih jauh dari kata ‘kaffah’. Terus apanya yang
salah?

Mulailah saya bertanya dalam diri, apakah ada yang
salah dalam ibadah saya? Saya berpikir bahwa hanya
diri saya yang mengalami kegelisahan tersebut namun
ternyata banyak keluhan serupa terlontar dari
ikhwan-ikhwan yang juga ketat dalam menjaga syariat.


Kalaulah saya tidak takut dosa mungkin saya akan
mencari jalan lain untuk mendapatkan kedamaian dan
ketentraman. Saya juga mengintip apa yang dilakukan
orang lain dalam mencari kedamaian dan ketentraman.
Dari sekian banyak yang saya temui melihat perilaku
orang lain dalam mencari solusi. Tidak salah lagi
…..kebathinan dan dunia klenik mistis perdukunan jadi
pelabuhan jiwanya. Sementara sebagian lagi terjebak
oleh retorika ilmiah yang disajikan dengan memisahkan
tidak ada hubungannya dengan agama sama sekali.,
apalagi dengan dunia mantra-mantra. Dalam hal ini saya
tidak akan membahas mengenai bagaimana dan tidak akan
membuka perdebatan masalah apa yang dilakukan orang
lain. Dari pergolakan jiwa saya yang menggelegak
itulah saya bertemu dengan H. Slamet Oetomo. Lewat
butiran mutiara nesehatnya itulah, saya mengambil
kesimpulan bahwa tidak akan pernah ada dan mampu
manusia di kolong semesta ini untuk berIslam dengan
‘kaffah’, kecuali mendapatkan karunia dan bimbingan
Allah secara langsung.

Didalam renungan saya yang sangat mengherankan.
Betapa tidak, sedikitpun saya tidak pernah
merencanakan benci atau marah terhadap seseorang yang
menyinggung hati. Tapi kenapa benci dan marah itu
datang tanpa bisa saya cegah. Namun sebaliknya kenapa
untuk berbuat baik dan ikhlash harus memerlukan tenaga
dan upaya yang sangat luar biasa. Kenapa kebaikan
tidak menjadi terasa ringan dan mudah sehingga tak
terasa beban dalam fikiran maupun perasaan. Rasa marah
berganti senyum, rasa benci menjadi kasih sayang, dari
tidak khusyu’ menjadi khusyu’ dan seterusnya.
Dan seharusnyalah sifat-sifat baik ini mengalir
seperti ilham yang menuntun perilaku kita. Suatu
malam, saya keluhkan hal ini kepada Allah tentang
keletihan hati dan ketidak mampuan untuk berbuat lebih
banyak menjalankan syariat Islam. Saya pasrah dan
mohon bimbingan agar ditunjukkan kejalan yang
diridhoi .

Selama ini kita dipaksa untuk percaya terhadap suatu
keyakinan tanpa pernah memahami mengapa kita harus
meyakininya. Keadaan inilah yang menyebabkan keyakinan
seseorang akan mudah lepas dan selalu dalam keraguan.
Misalnya begini, si Ahmad memberitahu Salman bahwa
gula itu rasanya manis. Berita dari Ahmad ini adalah
bentuk informasi yang memaksa Salman untuk percaya
(wajibul yakin) kemudian dilanjutkan untuk melakukan
memakan gula tersebut dan apa yang dikatakan oleh
Ahmad ternyata benar bahwa gula yang baru saja
dimakannya rasanya benar-benar manis. Pada tingkat
ini pengetahuan Salman bertambah dari wajibul yakin
menjadi ainul yakin (merasakan sendiri) kemudian
menjadi haqqul yakin, karena ia betul-betul mengalami
secara langsung bukan sekedar katanya si Ahmad. Akan
tetapi bahkan Salman sudah sekaligus mengisbathkan
(keyakinan yang tidak bisa diubahkan) kebenaran
informasi tersebut.

Sampai di sini, keyakinan Ahmad dan Salman tidak akan
mampu lagi orang lain mengubahnya walaupun dipenggal
leher sekalipun. Nah…keyakinan seperti inilah yang
kita harapkan dalam beribadah kepada Allah serta
mempercayai ayat-ayat sampai kepada keadaan yang
sebenarnya (hakikinya).

Dari hasil perbincangan dengan rekan-rekan yang
tergabung dalam majlis dzikir ini, banyak pengalaman
yang telah mereka lalui. Apa yang mereka katakan
hampir sama dengan apa yang telah saya lakukan. Dan
ternyata mereka juga mengalami hal yang sama atas
perubahan-perubahan dalam manisnya ibadah, sehingga
berkembang memasuki keadaan hakikat yang sebenarnya
dari bentuk syariat yang dilakukan. Anda tidak usah
khawatir untuk memasuki dunia iman lantas takut sesat,
tidak! Saya justru hanya mengajak melakukan apa yang
telah kita dapatkan, kalau sekiranya ada amalan yang
keluar dari dasar Islam maka anda mempunyai hak untuk
menentukan keluar dari majelis dzikir ini.

Banyak orang terjebak dalam menilai sesuatu. Kita
digiring kepada persoalan yang sempit. Kerohanian
tidak banyak dikenal orang Islam lantaran takut sesat
seperti Syekh Mansyur Al Hallaj atau Syekh Siti Jennar
yang terkenal dengan ajaran wihdatul wujud atau
manunggaling kawula gusti. Dua orang yang dianggap
sesat, menghalangi kita untuk belajar lebih dalam ilmu
hakikat. Padahal berapa ribu ulama yang tidak sesat
dalam belajar menghayati ruhiyah Islamiyah seperti
Hujjatul Islam Imam Alghazaly, Imam Annafiri, Imam
Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, para shahabat
rasul, serta Sunan bonang, Sunan Maulana Malik
Ibrahim, Sunan Kali Jaga yang merupakan guru Syekh
Siti Jennar, dan seterusnya yang hidup dengan ruhiyah
Islamiyah. Tapi mengapa kita hanya mempersoalkan
kesesatan dua tokoh tersebut. Kenapa kita tidak
melihat ulama yang tidak sesat seperti yang disebutkan
tadi. Ada sentimen apa sehingga begitu gencarnya
mengekspos sesat dan bid’ah terhadap yang
sungguh-sungguh dalam bermujahadah kepada Allah yang
Maha Ghaib….dan mengatakan belajar ilmu hakikat ini
divonis haram.

Dan yang perlu kita catat, kesesatan itu tidak hanya
pada ilmu kerohanian saja. ilmu fiqih, ilmu ekonomi,
ilmu akunting dan ilmu komputer, atau ilmu apa saja
dapat dibawa menuju kesesatan. Kenapa anda tidak
pernah takut untuk belajar ilmu akunting, padahal
dengan ilmu ini orang bisa menggunakannya untuk
korupsi (maling) juga ilmu yang lainnya. Semoga kita
tidak terpengaruh oleh pendapat sempit yang ia tidak
pernah memasuki atau menghayati kedalaman Islam secara
menghujam hingga ke lubuk hati.

Akibatnya kita menjadi korban atas pemberitaan yang
tidak seimbang. Islam yang kita lakukan sekarang
menjadi setengah hati, tidak sampai menghunjam ke
dalam akar iman yang sebenarnya. Kita tidak pernah
lagi mendengar suara hati kita terharu ketika
berhadapan dengan Allah. Apakah hati kita berguncang
keras tatkala asma Allah disebutkan berkali kali?
Ketakutan kita terhadap pemahaman tasawuf, yang
menurut prasangkaan kita akan tersesat seperti Syekh
Mansyur Al Hallaj atau Syekh Siti Jennar, telah
membuat asma Allah tidak lagi mampu menyejukkan dan
menggetarkan jiwa. Padahal keadaan itu merupakan
tanda-tanda keimanan seseorang.

Untuk itulah, agar kita tidak terjebak dalam pemahaman
sesat seperti di atas, agaknya kita perlu menengok
perjalanan sejarah pengalaman para nabi dan rasul
dalam merentas jalan keruhanian menuju lautan cinta
dan kasih sayang Allah SWT.


Cak Sangkan


Tadzkiyyatun Nafs (pembersihan jiwa), adalah forum
komunikasi masalah ruhiyah atau yang berhubungan
dengan masalah pengalaman ruhiyah (bathin) , melalui
dialog yang berkesinam-bungan anda akan diajak
meruntun jejak alquran secara kauniyah .

Ada banyak sekali pertanyaan pada kita. Sebagian dari
pertanyaan ini mungkin kelihatan mudah dan jelas
sekali bagi sekelompok orang,dan dapat dijawab dengan
mudah . Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan
dengan hukum (fiqih) serta ilmu pengetahuan, jawaban
atas pertanyaan pertanyaan tersebut dapat dijawab
dengan bukti-bukti yang kuat yang membuat kita menjadi
jelas dan tidak ragu-ragu lagi atas kebenaran jawaban
yang diberikan. Ada banyak sekali pertanyaan
-pertanyaan yang belum pernah terjawab dengan baik.
Pertanyaan pertanyaan tersebut sebenarnya amat
mendasar, tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang
konkret dengan bukti ,karena selama ini dianggap tidak
mungkin antara lain adalah:

 Apakah ada shalat khusyu’ itu ?
 Mungkinkah orang awam seperti kita bisa
melakukannya ?
 Benarkan ibadah itu nikmat dan dapat
menenangkan jiwa ?
 Bagaimana Allah menjawab setiap doa ?
 Bagaimana cara membedakan ilham dari Allah
dan ilham dari syetan
 Adakah cara mudah untuk mencapai Makrifat
kepada Allah ?
 Apakah hakikat diri, dan mengapa harus
kembali kepada Allah ?
 Dll ....

Kita semua sudah mendengar dan memperoleh jawaban
untuk hal-hal tersebut. Tetapi karena jawaban tersebut
tidak diberikan dengan bukti dan hanya disampaikan
dengan istilah katanya dan katanya ..... maka sampai
detik ini semua pertanyaan tersebut terabaikan dan
akibatnya kita memaklumkan ketidak khusyuan, dan tidak
dikabulkannya doa merupakan hal yang tidak penting.

Pertanyaan -pertanyaan tersebut diatas mungkin
sebagian dari kita sulit untuk mempercayai kalau hal
itu bisa terjadi dan dirasakan oleh kita secara
langsung !

Mudah-mudahan melalui diskusi dan dialog nanti kita
sampai kepada jawaban dan keadaan iman yang sebenarnya
berlandaskan Alquran dan As sunnah.

insya Allah didalam forum ini anda akan menemukan
jawabannya dan merasakan secara langsung . metode
yang disajikan nanti sangat sederhana dan mudah
difahami serta bisa dipraktekkan dirumah
masing-masing, secara langsung dan tanpa perantara.


Wassalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar